Disiplin
Saya ketemu tweet menarik, bunyinya seperti di bawah ini. Kali ini kita fokus ke nomor 1 dulu.
A BOY becomes a MAN when:
— Tyler Todt (@tyromper) September 17, 2023
1) He’s no longer a slave to his impulses.
Chooses discipline over dopamine.
2) He takes ownership of everything.
Doesn’t pass blame.
3) His emotions no longer dictate his actions.
Expresses emotions, but they don’t lead him.
I know 19 year old MEN &…
Tweet diatas, khususnya bagian chooses discipline over dopamine, menarik karena dua hal:
Satu, dia berima.
Dua, karena dia masuk akal. Memang harusnya demikian. Tumbuh dewasa artinya mau tidak mau butuh disiplin untuk mendapatkan sesuatu. Bekerja yang baik & bisa naik gaji, perlu dispilin waktu dan mencapai target. Mau turun berat badan, perlu disiplin jaga makan & olahraga. Ingin lebih mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa, perlu disiplin bangun sebelum subuh untuk tahajud. Semua butuh disiplin.
Sedangkan dopamin yang dimaksud disini lebih untuk dopamin “murahan”. Yang asalnya dari hal-hal kurang bermutu, semata-mata untuk menghabiskan waktu atau bahkan sebagai pelarian. Contohnya scrolling sosial media mindlessly hingga tengah malam, padahal harusnya disiplin tidur cepat supaya esok bangun segar dan bisa kerja dengan performa terbaik. Rasanya memang menyenangkan saat scrolling itu, karena dopamin muncul. Dopamin murahan, sebaiknya dihindari.
Lagi pula, sebagaimana sering Pandji Pragiwaksono bilang, disiplin itu tidak mengekang, justru membebaskan. Kalau disiplin belajar nulis misalnya, lalu jadi jago, lebih bebas nanti mau pilih kerja apa.